Selasa, 28 Desember 2021

Bimbang

Bingung harus berkata apa

Entah benar atau salah

Sikap yang kutunjukkan

Orang jadi bertanya tanya

Kemana kicauan merdu raib tak berpesan


Diam seribu bahasa ,malu menyapa

Ini mungkin sifat ataukah  kodrat

Angkuh berbalut makna

Membawa nestapa dalam jiwa


Kadang membuang muka

Acuh tak acuh melihat keberadaanku

Retinanya melirik tanpa sengaja 

Eling .. naluriku menasehati

Nampak dari wajah sang penguasa

Abai memandang ke arahku


Sambil merenung kucoba menetralkan rasa

Amarah menggelayut dalam batin

Lara menggerogoti sukma yang rapuh

Arahkan kebimbangan menuju kepastian

Hilangkan prasangka buruk terhadap sesama
















Minggu, 26 Desember 2021

Belenggu

Sakit, perih yang kurasakan saat ini, 

Semoga tidak menimpa teman pendidik di seantero negeri

Cukup aku dan Tuhan yang tahu apa penyebabnya

Mengeluh kepada siapapun tiada guna

//

Orang melihat secara fisik baik - baik saja

Kala orang ketawa ikut ketawa, kala , yang gede semuanya berpacu dalam aktivitas kularut bersamanya. 

Mereka tak pernah percaya dan mau tahu.

Walau tergeletak tak bernyawa, hati tak bergeming

//

Sudahlah ..kusadari kondisiku

Walau berjuang sekuat tenaga 

Tak akan mampu meluluhkan egomu

Seperti batu karang yang terhempas gelombang

//

Kini kuhadir seperti mayat berjalan. 

Kesana kemari tanpa arah tujuan. 

Apa yang kau katakan kuturuti, apa yang kau perintah kulaksanakan. 

Meskipun fisik tak kuasa dan menolak.

//

Kuingin melepas semuanya

Namun beban dan tanggung jawab mengikatku

Membuat diriku harus berjalan terseok - seok

Di atas kerikil - kerikil tajam

//

Akankah perjalanan ini terhenti ?

Tanpa kata dan langkah, menyeruak secara tiba - tiba

Menggetarkan dinding sukmamu

Menghentikan detak jantungmu, menyadarkan akan kebesaran Ilahi.

//

Mungkin kamu berpikir, punya segalanya

Harta, tahta, jabatan, sehingga merasa punya power .

Jangan larut dalam keangkuhan

Semuanya bisa hilang, lenyap, binasa seketika









Puisi untuk Ibu


Ibu..

Engkau adalah guru pertama bagiku

Mengajarkanku berbicara dengan gestur tubuh dan isyarat

Menuntunku berjalan langkah demi langkah

Ketika kujatuh, tanganmu meraih lalu memapahku

//

Ibu...

Kuingin melihat senyum di bibirmu 

Memberikan kenyamanan dalam jiwamu

Membahagiakan hidupmu

Mencintaimu dengan sepenuh hati

//

Namun...

Kadang kuabaikan kewajibanku

Bahkan melawan perintahmu

Menyiakan dan melupakan dirimu

Tanpa kusadari begitu teririsnya hatimu

//

Ibu..

Seharusnya aku menjadi perisai

Bukan jadi anak yang tak tahu diri

Sepantasnya aku menjadi anak yang patuh

Bukan jadi anak yang banyak permintaan

//

Ibu...

Di ujung senjamu

Kuingin menebus semua

Dosa dan kesalahan yang pernah kulakukan

Walau harus mengorbankan ragaku

//

Ibu...

Dengan kemampuan yang kumiliki

Kuserahkan segalanya

Sebagai wujud baktiku padamu

Dalam meraih ridho dan maafmu





//


Ego di Ujung Senja seri 7

Andi berteriak Nina....a..a...a

Ada apa mas Andi? tanya Nina. Wajah Andi memerah dan matanya melotot, memandangi Nina. Dengan suara keras Andi memerintah, Duduk! Kenapa menghubungi laki - laki lain tanpa sepengetahuan aku. Ujar Andi. Nina kaget, air mata tak terasa jatuh dari sudut netranya. Mungkin selama ini ia tidak pernah mendegarkan suara keras, sehingga gampang sedih. Dengan wajah tertunduk, sambil perlahan menarik napas panjang. Nina menenangkan hatinya dengan  berulang kali mengucapkan istigfar, kemudian berusaha bangkit dari kesedihannya. 

Setelah suasana tenang, Ia menatap suaminya dan menjelaskan sms yang dibaca Andi. Tadi waktu cek up di rumah sakit, tidak sengaja ketemu dengan laki - laki yang  berprofesi sebagai guru ngaji di kampung. Orang tersebut hendak menjenguk isteri temannya yang sedang dirawat di rumah sakit yang sama. Nina melanjutkan penjelasannya karena saya kenal, makanya kuajaklah ngobrol. Tapi di mata Andi Nina tetap salah. Meskipun demikian tidak pantas seorang isteri menanyakan kabar orang lain. Apalagi bukan muhrimnya. Kamu memang egois. Ini sudah kesekian kalinya melakukan kesalahan. Sementara urusan mas Andi selalu dikontrol, bahkan handphone pun diperiksa. 

Untuk menghilangkan kejengkelannya Andi bergegas pergi mencari kesibukan lain agar emosinya tidak terbakar. 

Diambilnya sepeda motor kemudian tancap gas sekencang kencangnya, berlalu dari hadapan Nina. Lima menit kemudian sampailah di tempat tujuan, Andi mencari tempat parkir,  ditinggalkannya motor tersebut, lalu duduk di balai - balai tak jauh dari tempat parkiran.  Ia mulai merebahkan tubuhnya, sejenak berpikir dan berusaha melupakan permasalahan yang dihadapi.

 Tak lama berselang Andi membuka aplikasi whatsapp di hand phonenya. Terlihat pesan Nina yang meminta maaf. Hari ini saya akan menjalani vaksin bersama bapak di Rumah Sakit, kalaulah dengan jalan ini Allah mengambil hidupku, saya pasrah yang penting mas Andi Ridho, "kata Nina dalam pesan singkatnya.  Lama setelah melakukan pertimbangan, baru SMS tersebut dibalas Andi. 

Bersambung....


Pemikiran Islam

Melepas penat dengan menuntut ilmu dari dosen Muda hari ini. Dalam bincang - bincang bersama rekan kuliah sebelum perkuliahan dimulai, Bu Ro...