Melihat sekilas wajahnya pasti persepsi orang sangar, pemarah, disiplin. Menurut informasi dari temannya, wataknya keras dan suka menekan bawahannya. Diawal kepemimpinannya ternyata agak bertolak belakang dari informasi yang kami peroleh. Beliau ramah, supel laoyalitasnya tinggi terhadap anak buah. Setahun berjalan memimpin instansi mulai muncul sifat dan karakter yang mungkin menurutnya biasa saja tetapi bagi anak buahnya itu sudah watak dan sifat buruk. Karena perbuatan dan tingkah lakunya berulang kali terjadi. Terkesan sepele namun bukan mencerminkan sifat yang semestinya dimiliki oleh seorang pemimpin. Wajar jika banyak yang mengeluh namun tak ada seorangpun yang berani memberikan masukan apalagi kritikan. Mereka hanya bisa mengeluh dan curhat kepada rekan kerja.
Hampir setiap hari berada di ruang kerja anak buahnya, ada dua kemungkinan tujuannya: mengontrol kinerja bawahan dan melayani setiap kebutuhan yang diperlukan dalam melengkapi administrasi. Keduanya akan sangat membantu bawahan jika maksudnya menyelesaikan tugas dengan baik. Pada kenyataannya tidak demikian, aktivitasnya ketika datang masuk ke ruang kerja menyimpan tas, lalu beranjak ke ruang kerja bawahan memulai obrolan yang topiknya mayoritas tidak ada kaitannya dengan masalah pekerjaan. Semua permasalahan orang lain diungkap tanpa mempedulikan tupoksinya. Ada banyak tugas yang harus beliau selesaikan terutama administrasi dan manajemen kepemimpinan dalam hal ini pelaksanaan program dan evaluasi. Ketika ada pemeriksaan dari atasannya seringkali menjawab pertanyaan tanpa didasari fakta. Karena semua tugasnya dilimpahkan ke anak buahnya.
Gaptek tidak menjadi persoalan, maaih bisa dibantu oleh bawahan. namun semua konsep seharusnya beliau yang buat dan atas pemikirannya. Daripada setiap hari hanya mengobrol tidak jelas arah dan tujuannya. Sama sekali tidak memberikan manfaat terhadap perkembangan dan kemajuan instansi yang dipimpin. Tetapi ada kelebihannya jika ada kaitannya dengan masalah keuangan dan laporan pertanggungjawaban cepat merespon. Secara lisan selalu open minded, namun tidak pernah memaparkan laporan pertanggungjawaban bantuan Dana Alokasi Khusus (DAK) dan bantuan lainnya kepada rekan kerja. Wajar jika masyarakat dan komite melemparkan kritikan. Seharusnya tidak perlu tersinggung dan merasa sakit hati jika ada suara sumbang yang dilontarkan dari luar lingkungan kerja. Karena sudah menjadi resiko dan komitmen dari sebuah kerjasama dalam mencapai tujuan bersama.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar